Selasa, 31 Juli 2018

Cerita Lama (1)


Kopi sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam deretan perjalanan hidup ini. Layaknya sahabat yang bisa kolaborasi. Kopi yang menawarkan kemolekan citarasa ingin segera dinikmati. Begitupun dengan diriku yang tertawan ingin segera menikmati. Mengisi ruang kosong dalam hidup ini. Namun harus diakui kopi bukan satu satunya sahabat terbaik. Masih banyak sahabat disela sela kehidupan yang manusia lewati. Termasuk al-Quran sahabat terbaik penuntun kehidupan. (15 Februari 2018)

Bergulatlah perasaanmu denganNya. Jika toh bercerita padaku tak ada gunanya. Redamlah ego yang ganas membelenggu. Murnikan hanya Dia yang perlu tau. Aku akan mencoba untuk mundur berlahan. Agar cerita yang semu untukku tak sampai terdengar. Doakan saja semoga dirindukan untuk segera memulai. Aku masih jauh dari Dia dan juga dia. Entah kapan mendekat. Aku sempat berfikir, kapan lagi kalo tidak hari ini dan sekarang. Entahlah, masih ada yang berkecamuk dalam hati. Sangat keras. harusnya aku segera bergegas menyusul diaku untuk ku persembahkan kepada orangtuaku. (15 Juni 2017)

#Salam Literasi
#Mari Berekspresi

Senin, 30 Juli 2018

Teruntuk Kamu Yang Disayang Tuhan




Teruntuk kamu yang sedang disayang Tuhan
Aku tahu sakit itu membosankan
Aku sarankan jadikan
Sakitmu sebagai jalan
Membuka buku sebagai panggung.
Penamu sebagai penari
Menari tanpa batas waktu
Tanpa takut kamu sibuk ini itu

Pena dan kertas
Menjadi obat kesendirian diatas pembaringan
Disaat semua orang tak peduli yang kamu rasakan
Keduanya menggelar pertunjukan
Mencoba untuk menghibur
Dengan tarian coretan

Dikala fisikmu terbatas dalam gerak
Aku yakin
Tidak dengan otak dan hati
Mereka akan tetep berfungsi
Menterjemahkan keadaan mengambil hikmah
Diatas kegundahan dan rasa takut

Teruntuk kamu yang sedang disayang Tuhan
Pena akan menari diatas panggung dengan eksotis
Meluapkan gejolak fikiran dan hatimu
Mereka menari bebas tanpa batas
Berkelana menerobos batas keterbatasan
Melayang jauh sampai diujung langit

Hingga didepan singgasana Tuhan
Menceritakan rasa penyesalan dan harapan
Sembari menahan rasa sakit kian menggoda keimanan
Berharap Tuhan memberi pengampunan dan kesempatan
Dikuatkan dengan kesabaran
Agar cobaan segera terselesaikan
Untuk memulai baru, kehidupan
Kearah kebaikan

Surakarta, 30 Juli 2018

#Salam Literasi
#Maari Berekspresi

Selasa, 17 Juli 2018

Sakit, Buku dan Pena



Sakitmu adalah jalan untuk membuka buku sebagai panggung. Dan penamu sebagai penari yang akan menari tanpa batas waktu.

Keduanya menggelar pertunjukan untuk menampung fikiranmu yang berkelana menerobos batas keterbatasan tatkala fisik tak mampu.

Berbahagialah. Pena dan Buku akan menjadi obat kesendirian diatas pembaringan. Menahan rasa sakit yang kian menggoda keimanan. Sabar menjadi kunci
andalan disaat semua tak sesuai harapan.

Hadirkan Tuhan dalam setiap pertunjukan tarianmu itu.
Agar Tuhan menyertaimu dalam eksotisnya penamu.
Menghasilkan buah karya menawan tiada dua.

Surakarta, 09 Desember 2017

#Salam Literasi
#Mari Berekspresi

Minggu, 15 Juli 2018

Singkat Mengenalmu

Malam itu
Tepat pada jantung Ibu Kota. Timur Monas kiranya
Dirimu menyambut kedatanganku dengan senyuman
Empat mata nampak jelas bertatapan
Dua pasang kaki berjalan bersamaan
Melewati malam ditengah perkotaan
Tertawa lepas dalam satu ruang
Lupa, bahwa fajar akan segera datang

Sederet pertanyaan tentangku
Terjawab sudah oleh pertemuan yang dinantikan
Setelah melewati malam kemarin penuh kerinduan
Dirimu melepas rasa penasaran yang membingungkan
Hanya kebahagiaan yang terpancarkan

Masih dalam satu ruang, beda waktu
Diriku didepanmu tak terjamah oleh penglihatan
Terabaikan
Tegur sapa tak lagi ada
Seketika, indahnya kebersamaan malam itu sirna

Aku terlalu naif, 
Membayangkan ada kelanjutan pertemuan
Atau kadang dipertemukan dipelaminan
Namun, syahdan
Kebersamaan itu berjalan cepat
Tak sesuai harapan
Seperti kilatan petir,
Menggelegar!
Sinarnya hampir saja tak nampak
Kita bertemu untuk pertama dan terakhir

Kutipan "Ada Pertemuan, Ada Perpisahan" layak dibenarkan
Dirimu benar menghilang
Tak sempat Ku berpamitan
Hanya salam yang Ku titipkan
Pada dedaunan kering yang berserakan
Ada bait-bait kata yang belum tersampaikan
Dan Aku akan mengira pertemuan kemarin hanya mimpi
Bukan kenyataan


Singgasana, Semarang Februari 2018
Mengenang "Singkat Mengenalmu" di Jaya Karta.
Tepat pada jantung Ibu Kota. Monas tepatnya.

#Salam Literasi
#Mari Berekspresi

Jumat, 13 Juli 2018

Tuhan, Maafkan Aku Atas Egoku



Tuhan
Aku sedang merindukan seseorang
Namun, aku tak berani mendekatinya
Tuhan
Aku sedang ingin ditanya kabar olehnya
Namun, aku tak berani menanyakan kabarnya
Tuhan
Aku ingin mendengar suaranya
Namun, aku tak berani membuka mulutku untuk didengar olehnya
Tuhan
Aku ingin berada dalam dekapan hangatnya
Namun, aku tak berani berada disisinya
Tuhan
Aku ingin melihatnya
Namun, aku tak berani untuk dilihatnya
Tuhan
Aku sedang bersalah dengannya
Namun, aku sangat berharap banyak padanya
Tuhan
Bagaimana kabarnya?
Apa dia sedang bersedih?
Kapan terakhir dia tersenyum?
Tuhan
Jarak sedang menghukumku untuk merasakan manisnya rindu
Pada makhlukmu yang cantumkan namaku disetiap sujudnya kepadaMu
Tuhan
Aku mohon jaga dia
Hibur dia, berkahi dia
Lancarkan segala urusannya
Tiada daya upayaku kecuali kehendakMu, Tuhan

Laweyan, Surakarta 23 Maret 2018

#Salam Literasi
#Mari Berekspresi

Air Mata Tanda Tanya

Ada air mata yang memaksa keluar. Merembas disudut mata. Ingin ku usap air mata itu. Tak sanggup ku mengusapnya. Terhalang kacamata bulat penghias wajah cantikmu. Itu bukan air mata cengeng. Air mata ketulusan, ku kira. Air mata takut kehilangan, tak bersama lagi. Atau air mata bahagia atas kebersaman selama ini. Entahlah, tak mampu ku menterjemakannya. Jelasnya, ada makna tersirat dari rembesan air matanya. Dan, masih menjadi misteri hingga kini.

Surakarta, 06 Juni 2018


#Salam Literasi
#Mari Berekspresi

Kamis, 12 Juli 2018

Membalas Sebuah Kerinduan


Mengorek lembaran kusam masa lalu yang pernah kita torehkan bersama. Tintanya masih basah dalam tulisan. Terekam rapi dalam memori hati. Terasa hangat diingatan. Terbayang suara canda tawa masih renyah terdengar menghibur diri. Disela-sela kesedihan caci maki tiada henti. Ditolak sana-sini. Cibiran silih berganti menyelingi. Hingga, putus asa satu langkah menghampiri. Kaki ini sempat berhenti, frustasi. Gelap dalam kelam menyelimuti.

Hanya satu jalan, kembali pada Ilahi Rabbi. Dikala sujud malam dilaksanakan. Gelora perjuangan terbangkitkan. Kaki siap dilangkahkan. Melanjutkan perjuangan. Menahan onak duri cobaan yang menyakitkan. Tibalah saat air mata bahagia pecah atas pencapaian. Mempertahankan dan Melanjutkan menjadi tantangan kedapan. Berharap Tuhan semesta Alam menguatkan.

Masa itu jauh dibelakang. Seperti kopi, pahit. Namun, waktu tak cukup untuk menikmati. Kan jadi deretan kisah perlajanan hidup. Dikenang hingga rambut kita beruban. Suatu saat, sayup-sayup terlihat lambaian tangan. Memberi isyarat pertemuan tanpa persyaratan segera dilaksanakan. Untuk membalas sebuah kerinduan. Bernostalgia pahit getir perjuangan masa itu, bersamamu.

Surakarta, 26 April 2018-

#Salam Lierasi
#Mari Berekspresi